Selasa, 29 September 2015

"SAAT ANAK ATAU ADIKMU MAIN IPad, ANAK BOS GOOGLE DAN APPLE ASYIK MAIN TANAH DI SEKOLAH"

Di Indonesia, mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) adalah salah satu muatan lokal yang umum ditemui. Banyak juga sekolah yang mengizinkan murid-muridnya membawa laptop untuk kepentingan mencatat atau browsing informasi saat di kelas.

Selesai sekolah, anak-anak ini pun bukannya pulang ke rumah untuk istirahat; mereka justru kembali akrab dengan iPad atau game konsol mereka dengan alasan refreshing setelah seharian belajar. Saking sudah umumnya, sebagian dari kita mungkin menganggap fenomena ini sah-sah saja.
Tapi tunggu! Mari sejenak jalan-jalan ke Silicon Valley, sebuah kawasan di Amerika dimana perusahaan-perusahaan teknologi top dunia berkantor. Di tempat ini terdapat fakta yang akan membuat kita berpikir ulang,

“Apakah keputusan mengenalkan komputer pada anak sejak usia dini itu tepat?”
Para petinggi Google, Apple, Yahoo, HP hingga eBay mengirim anak-anaknya ke sekolah yang sama sekali tak punya komputer. Petinggi perusahaan teknologi mengirim anak-anaknya ke sekolah tanpa komputer.

Ketika sekolah-sekolah lain memasukkan komputer dalam kurikulum dan berlomba membangun sekolah digital, Waldorf School of the Peninsula justru melakukan sebaliknya. Sekolah ini dengan sengaja menjauhkan anak-anak dari perangkat komputer.

Sekolah Waldorf justru fokus pada aktivitas fisik, kreativitas, dan kemampuan ketrampilan tangan para murid. Anak-anak tak diajarkan mengenal perangkat tablet atau laptop. Mereka biasa mencatat dengan kertas dan pulpen, menggunakan jarum rajut dan lem perekat ketika membuat prakarya, hingga bermain-main dengan tanah setelah selesai pelajaran olahraga.

Guru-guru di Waldorf percaya bahwa komputer justru akan menghambat kemampuan bergerak, berpikir kreatif, berinteraksi dengan manusia, hingga kepekaan dan kemampuan anak memperhatikan pelajaran.

Para petinggi di dunia IT ini membela keputusan sekolah Waldorf untuk tak memperkenalkan komputer ke anak-anak mereka metode belajar tanpa komputer justru mendapat kritikan.
Banyak yang menganggap bahwa kebijakan yang dibuat Waldorf itu keliru. Meski metode pembelajaran yang mereka gunakan sudah berusia lebih dari satu abad, perdebatan soal penggunaan komputer dalam proses belajar-mengajar masih terus berlanjut.

Menurut para pendidik dan orangtua murid di Sekolah Waldorf, sekolah dasar yang baik justru harus menghindarkan murid-muridnya dari komputer. Ini disetujui oleh Alan Eagle (50), yang menyekolahkan anaknya Andie di Waldorf School of the Peninsula:
“[Anak saya baik-baik saja, meskipun] tak tahu bagaimana caranya menggunakan Google. Anak saya yang lain, yang sekarang di kelas dua SMP, juga baru saja dikenalkan pada komputer,” tutur Eagle, yang bekerja untuk Google.

Eagle tak mempermasalahkan ironi antara statusnya sebagai staf ahli di Google dan kondisi anak-anaknya yang gaptek.

Tanpa perangkat komputer atau kabel, kelas-kelas di Waldorf punya tampilan klasik dengan papan tulis dan kapur warna-warni

Sekolah Waldorf tampil dengan gaya ruangan kelas yang klasik. Tak banyak perangkat elektronik, layar-layar komputer, atau kabel-kabel yang menghiasi ruangan. Berhias dinding-dinding kayu, kamu hanya akan menemukan papan tulis penuh coretan kapur warna-warni. Ada rak-rak penuh berbagai jenis ensiklopedia hingga meja-meja kayu dengan tumpukan buku-buku catatan dan pensil.
Andie yang duduk di kelas 5 mendapat pelajaran membuat kaos kaki. Ketrampilan merajut dipercaya membantu anak-anak belajar memahami pola dan hitungan. Menggunakan jarum dan benang bisa mengasah kemampuan memecahkan masalah dan belajar koordinasi. Saat pelajaran bahasa di kelas 2, anak-anak akan diajak berdiri melingkar. Mereka diminta mengulang kalimat yang diucapkan guru secara bergiliran. Gilirannya ditentukan dengan melempar penghapus atau bola. Ternyata, metode belajar ini bisa jadi salah satu cara untuk mensinkronkan tubuh dan otak.

Guru kelas Andie, Cathy Waheed, mengajarkan anak-anak mengenal pecahan dengan metode yang sangat sederhana. Yup, Waheed menggunakan buah apel, kue pai, atau roti yang dipotong-potong lalu dibagikan pada murid-muridnya.

“Saya yakin dengan cara ini mereka bisa lebih mudah mengenal hitungan pecahan,” ujar Waheed, yang merupakan lulusan Ilmu Komputer dan sempat bekerja sebagai teknisi

Menurut guru-guru Waldorf, mengajarkan siswa memakai komputer tak akan membuat mereka bertambah pintar. Sampai saat ini belum ada penelitian yang bisa menjelaskan kaitan keduanya. belum ada fakta yang mengaitkan penggunaan komputer dan prestasi siswa.

Selain dari pengajar dan orang tua murid, para ahli pendidikan pun menegaskan:
“Penggunaan komputer di ruang kelas sebenarnya tidak ada alasan ilmiahnya. Sampai saat ini toh belum ada penelitian yang membuktikan bahwa keterampilan menggunakan komputer akan berpengaruh pada nilai tes atau prestasi mereka.”

Nah, apakah belajar hitungan pecahan dengan memotong apel atau merajut jauh lebih baik? Bagi Waldorf, pertanyaan ini sulit dibuktikan. Sebagai sekolah swasta, Waldorf tak berpedoman pada tes-tes dasar yang serupa dengan sekolah-sekolah lain. Mereka pun memang mengakui bahwa murid-muridnya tak akan dapat nilai setinggi anak-anak sekolah negeri jika diminta mengerjakan soal-soal tes umum. Bukan karena mereka bodoh, namun karena murid-murid Waldorf memang tak dijejali teori-teori matematika dasar sesuai kurikulum.

Namun, ketika diminta membuktikan efektivitas pendidikan di Waldorf, Association of Waldorf School di Amerika Utara menayangkan hasil penelitian yang tak main-main:

“94% siswa lulusan SMA Waldorf di Amerika Serikat di antara tahun 1994 sampai 2004 berhasil masuk di berbagai jurusan di kampus-kampus bergengsi seperti Oberlin, Berkeley, dan Vassar.”

Selain faktor minimnya teknologi, kualitas pengajar yang baik di Waldorf juga dinilai berpengaruh pada keberhasilan sekolah tersebut mengirim anak-anaknya ke universitas-universitas bergengsi di Amerika. Waldorf memang tak sembarangan dalam memilih guru. Selain berpendidikan tinggi, mereka harus memiliki jam terbang yang mumpuni. Wajar saja jika Waldorf kemudian berhasil mengembangkan anak didik mereka menjadi hebat dan berprestasi.

Kualitas inilah yang kemudian membuat para orangtua percaya pada metode pengajaran Waldorf. Salah satu orangtua tersebut adalah Pierre Laurent (50), pendiri startup yang sebelumnya bekerja di Intel dan Microsoft. Bahkan saking terkesannya dengan metode Waldorf, Monica Laurent, istri Pierre, bergabung menjadi guru di sekolah ini sejak tahun 2006.

Waldorf memegang filosofi bahwa belajar-mengajar bukan perkara sederhana. Ini tentang bagaimana seharusnya menjadi manusia.

Sebenarnya menurut Waldorf, memilih menggunakan teknologi komputer atau tidak bisa jadi sifatnya subyektif atau perkara pilihan. Terserah saja, menurut kebijakan sekolah masing-masing. Namun yang harus dicatat: ketika anak sudah dibiarkan lekat dengan komputer sejak dini, bisa saja ia akan ketergantungan dan sulit melepaskan gawai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Ann Flynn — petinggi National School Boards Association yang membawahi sekolah-sekolah negeri di Amerika — tetap bersikeras bahwa pelajaran komputer itu penting.

Sementara Paul Thomas, mantan guru dan profesor pendidikan yang sudah menulis lebih dari 12 buku tentang metode pendidikan publik, lebih setuju pada Waldorf. Baginya, pendekatan yang minim teknologi di dalam kelas justru sangat bermanfaat.

“Mengajar adalah pengalaman manusia. Teknologi justru bisa jadi gangguan ketika mengenal huruf dan angka, belajar hitungan, dan berpikir kritis, “ ungkap Thomas.

Keahlian di bidang IT adalah modal untuk bersaing di dunia kerja. Tapi, haruskah itu menjadi alasan untuk mengenalkan komputer pada anak sejak dini?

“Komputer itu sangat mudah. Kami di Google sengaja membuat perangkat yang ibaratnya bisa digunakan tanpa harus berpikir. Anak-anak toh tetap bisa mempelajari komputer sendiri jika usia mereka sudah dewasa.” – Alan Eagle.

Singkatnya, Eagle menjelaskan bahwa komputer itu mudah dan bisa dipelajari lewat kursus kilat sekalipun. Jadi buat apa “membunuh” kreativitas alami anak dengan memaksa mereka mempelajari komputer sejak dini?

Bukan berarti anak-anak di Waldorf dan Silicon Valley sama sekali tak melek teknologi. Siswa-siswa kelas V di Waldorf mengaku sering menghabiskan waktu mereka dengan menonton film di rumah. Seorang siswa yang ayahnya bekerja sebagai teknisi di Apple mengaku sering diminta mencoba game baru ciptaan sang ayah. Sementara seorang murid biasa berkutat dengan flight control system di akhir pekan bersama orang tuanya.

Justru anak-anak ini sudah mendapat pengetahuan teknologi dalam porsi yang pas, mengingat kebanyakan orangtua mereka adalah penggiat industri teknologi. Berkat didikan di Waldorf, anak-anak Silicon Valley mengaku tak nyaman saat melihat orang-orang di sekitarnya sibuk dengan gadget mereka.

“Aku lebih suka menulis dengan kertas dan pulpen. Ini membuatku bisa membandingkan tulisanku saat kelas I dengan yang sekarang. Kalau aku menulis di komputer ‘kan… gaya tulisannya sama semua. Dan kalau komputermu tiba-tiba rusak atau mendadak mati listrik, pekerjaanmu jadi tak selesai ‘kan?” ungkap Finn Heilig, yang ayahnya bekerja di Google.

Sekali lagi, metode pendidikan tanpa komputer bukannya bermaksud menutup akses anak untuk mengenal teknologi. Kelak, di usia tertentu mereka tetap punya kesempatan untuk mempelajarinya. Sementara di masa kanak-kanak, mereka berhak mendapat kesempatan menjadi sebenar-benarnya anak-anak.

Bagaimana nasib adik-adikmu atau anak-anakmu sendiri kelak? Apakah lebih baik mereka dikenalkan dengan gadget dan perangkat teknologi sejak dini, atau lebih baik menunggu sampai saat yang benar-benar tepat?

‪#‎RYLebihDekat‬ ‪#‎Pendidikan‬ ‪#‎Teknologi‬ ‪#‎Inspirasi‬ ‪#‎Anak‬

Sumber : http://goo.gl/wrwia5

Selasa, 15 September 2015

Belajar dari Supir Taxi



Suatu hari saya naik sebuah taxi menuju ke Bandara. Kami melaju pada jalur yang benar, ketika tiba-tiba sebuah mobil hitam melompat keluar dari tempat parkir tepat di depan kami, Supir taxi menginjak pedal rem dalam-dalam hingga ban mobil berdecit dan berhenti hanya beberapa cm dari mobil tersebut.

Pengemudi mobil hitam tsb mengeluarkan kepalanya & memaki maki ke arah kami. Supir taxi hanya tersenyum & melambai pada orang tersebut. Saya sangat heran dgn sikapnya yang bersahabat.

Saya bertanya, "Mengapa anda melakukannya ? Orang itu hampir merusak mobil anda dan dapat saja mengirim kita ke rumah sakit?"

Saat itulah saya belajar dari supir taxi tersebut mengenai apa yang saya kemudian sebut "Hukum Truk Sampah". 

Ia menjelaskan bahwa banyak orang seperti truk sampah. Mereka berjalan keliling membawa sampah, seperti frustrasi, kemarahan, kekecewaan. 

Seiring dengan semakin penuh kapasitasnya, semakin mereka membutuhkan tempat untuk membuangnya & seringkali mereka membuangnya kepada anda. 

Jangan ambil hati, tersenyum saja, lambaikan tangan, lalu lanjutkan hidup. Jangan ambil sampah mereka untuk kembali membuangnya kepada orang lain yang anda temui di tempat kerja, di rumah atau dalam perjalanan.

Intinya, orang yang sukses adalah orang yang tidak membiarkan "truk sampah" mengambil alih hari-hari mereka dengan merusak suasana hati.

"Hidup itu 10% mengenai apa yang kau buat dengannya dan 90% tentang bagaimana kamu menyikapinya..."

You Choose to be Happy or Grumpy !!

Hidup ini jangan diisi dengan penyesalan, maka kasihilah orang yang memperlakukan anda dengan benar, berdoalah bagi yang memperlakukan anda tidak benar

Hidup bukan mengenai menunggu badai berlalu, tapi tentang bagaimana belajar menari dalam hujan. "Lets dancing in the rain..".. 

Jangan pernah menghakimi orang lain, 
Biarlah kita menjadi pribadi bijak & mencoba belajar mengerti orang lain. Selalu memilih utk melapangkan hati, bersyukur dan merasa bahagia, meski diterpa hujan badai..

Have a nice day teman2...

Follow Yuuk Instagram & line id kami : @rumahyatim

Rabu, 09 September 2015

Lokasi Update Rumah Yatim

Kantor Pusat
Jl. Terusan Jakarta No. 212 Antapani - Bandung. Telp. (022) 7217014

Bandung
1. Jl. Terusan Jakarta No. 241 Antapani - Bandung. Telp. (022) 7204316
2. Jl. BuahBatu No. 296 - Bandung. Telp. (022) 731 2027
3. Jl. Golf Timur No. 48 Arcamanik - Bandung. Telp. (022) 7205969
4. Jl. Cemara No. 23 Cipaganti - Bandung.Telp. (022) 2037235
5. Jl. Lodaya No. 91 - Bandung. Telp. (022) 7301182
6. Jl. Ir. H. Juanda No. 305 - Bandung. Telp. (022) 2505409
7. Jl. Ibrahim Aji No. 465 - Bandung. Telp. (022) 7305360
8. Venus raya No. 22 Margahayuraya - Bandung
9. Jl. Abdurrahman Saleh No. 56 - Bandung (022) 6013758
10. Jl. Sriwijaya No. 6 Karasak, Astana Anyar - Bandung

Jakarta
1. Jl. Kemang Timur No.63 - Jakarta Selatan Telp. (021)-717 95168
2. Jl. Rawasari Selatan No.28 - Jakarta pusat Telp. (021) 4256543
3. Jl. Karang Tengah No. 69 Cilandak - Jakarta Selatan Telp. (021) 7696044
4. Jl. Kolonel Sugiono no. 16a Duren Sawit - Jakarta Timur
5. Jl. Veteran No.57, Margajaya - Bekasi Selatan Telp. (021) 8842601
6. Jl. Terogong Raya No.7A RT.007/10 Cilandak Barat - Jakarta Selatan (021) 7500074
7. Jl. Kalibata Raya No.2 Rawa Jati Pancoran - Jakarta Selatan

Tangerang
1. Jl. Beringin Raya No. 94 TangerangTelp. (021) 5588663
2. Jl. RE. Martadinata No. 58 A Pamulang Tangerang. Telp. (021) 7424729
3. Jl. Kecubung Raya No. 6 Blok i6, Perum Harapan Kita Tangerang. Telp. (021) 55324210
4. Villa Regency Blok AD No. 2 Permata Tangerang Pasar Kemis
5. Jl. Cut Mutia II Blok FG2 No. 38 Bintaro, Tangerang Telp. (021) 7486 2929

Bandar Lampung
1. Jl. Sultan Agung No. 37 Kedaton 35141 Bandar Lampung, Telp. (0721)-781237
2. Jl. WolterMoginsidi No. 45 GotongRoyong Tanjung Karang Bandar Lampung. Tlp. (0721) 241790

Yogyakarta
1. Jl. Kaliurang KM. 9.2 Sleman Yogyakarta Telp. (0274) 8231000
2. Jl. Monjali No. 92 Sleman Yogyakarta. Telp. (0274) 6411194

Tegal
Jl. Werkudoro No. 207 Tegal. Telp. (0283) 340702

Surabaya
Jl. Dharmo Indah Timur No. EU 9, Surabaya, JawaTimur. Telp. (031) 731 3173

Makassar
Jl. Sultan Alauddin No. 108, Makassar, Sulawesi Selatan. Telp. (0411) 886278

Banjarmasin
Jl. MayjendSutoyo S No. 12 Banjarmasin Tengah. Telp. (0511) 335 3911

PekanBaru
Jl. Durian No. 13 Labuan Baru Timur Payung Sekakki PekanBaru. Telp (0761) 4879926

Medan
Jl. Setiabudi No. 101 Medan Telp. (061) 821 4283

Aceh
Jl. ResidenDanubroto No. 13 Lamlagang Banda Aceh Telp. (0651) 48453

NTB
Jl. Bung Hatta No. 25 Mataram NTB. Tlp. (0370) 633550

Bali
Jl. Imam Bonjol No. 99 C Banjar Batannyuh Denpasar Bali, Telp. (0361) 488686


Update Rekening Donasi Rumah Yatim

Salurkan Donasi Anda di rekening-rekening yang telah kami sediakan berikut ini :

Rekening Zakat
Bank BCA 7750.317.001
Bank Mandiri 13.0001.300.0115
Bank BNI 018.27.29.251

Rekening Infaq, Shodaqoh, Hibah
Bank BCA 7750.333.456
Bank Mandiri 13.0000.542.0198
Bank BNI 012.764.765.8
Bank Muamalat 1010.0377.15
Bank BRI 0337.01000.930.309

Rekening Wakaf
Bank BCA 7750.333.090
Bank Mandiri 13.000.5000.5050
Bank BNI 015.754.559.3
Bank Muamalat 101.00383.15

Rekening Qurban
Bank Mandiri 13.000.0077.7444