Selasa, 19 Januari 2016

3 Kewajiban Orang Tua dalam Mendidik Anak Sesuai Ajaran Islam

 
 
Saat menikah dan kemudian berharap memiliki seorang anak; akan lebih baik jika kita telah mempersiapkan konsep seperti apa yang hendak kita terapkan dalam mendidik anak kita kelak, karena mendidik anak dalam Islam memiliki tata cara dan aturan tersendiri.
Di dalam Islam, anak memiliki kedudukan tersendiri yang harus kita jadikan pegangan dalam memilih model/cara mendidik anak yang akan kita lakukan.
 
Mendidik anak dalam Islam harus didasarkan pada petunjuk dari Allah, yaitu Al-Quran, karena Al-Qur’an tidak hanya membahas tentang kewajiban anak kepada orang tua, namun juga kewajiban orang tua kepada anaknya.
 
Dan berikut ini adalah pandangan Al-Quran tentang anak, yang perlu kita ketahui dalam mendidik anak :
>>Anak sebagai Amanah bagi Orangtuanya
Selayaknya para bijak mengatakan bahwa sesungguhnya anak-anak bukanlah milik kita; mereka adalah titipan dari Allah kepada kita. Untuk itu sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk mendidik anak sesuai dengan yang telah Allah perintahkan. Jadi, adalah kesalahan bagi orang tua apabila seorang anak jauh dari ajaran Islam.
 
>> Anak sebagai Generasi Penerus
Anak adalah harapan di masa depan; merekalah kelak yang akan menjadi pengaman dan pelopor masa depan agama dan bangsa. Jadi wajib bagi kita mendidik mereka untuk menjadi generasi tangguh di masa depan. Lebih jauh, Allah memerintahkan kita sebagai orang tua untuk menjauhkan mreeka dari api neraka kelak.
 
>>Anak adalah Tabungan Amal Kita di Akhirat
Seperti telah kita tahu, bahwa selain amal kita di dunia, sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak yang saleh merupakan amalan yang pahalanya akan terus mengalir hingga hari penghitungan kelak. Jadi, mendidik anak sesuai perintah Allah tetaplah merupakan keuntungan bagi diri kita juga pada akhirnya.
 
>>Anak adalah Penghiburan dan Perhiasan Dunia bagi Orang Tuanya
Anak adalah perhiasan bagi orang tua. Di satu sisi, ia akan menjadi penghibur di kala lelah dan kesusahan melanda, namun di satu sisi, ia juga dapat menggelincirkan dari jalan Allah.
 
Berdasar pemahaman akan kedudukan anak dalam al-Qur’an diatas, maka ada 3 kewajiban orang tua dalam mendidik anak, yaitu:
1.Memberikan Dasar Hubungan Harmonis dengan Allah SWT (Habbuminnallah)
Sebagai orang tua kita harus dapat mengenalkan kepada anak-anak kita siapa Allah dan mengapa kita wajib taat padaNya. Ketaatan itu tidak karena Allah adalah pencipta, dan pemilik kita, namun karena dengan taat kepadaNya, hidup kita akan menjadi lebih baik dan bahagia. Dengan memberikan dasar sedemikian, maka anak tidak akan menganggap Allah sebagai sebagai “hakim” atau “pengawas”; namun sebagai zat yang memang kita butuhkan keberadaanNya. Hal inilah yang harus kita jadikan landasan utama dalam mendidik anak sekaligus merancang pola asuh yang tepat baginya.
Salah satu cara untuk memberikan dasar habbuminnallah adalah dengan mengajarkan shalat kepada anak semenjak kecil. Dan kemudian mulai memberikan pengertian mengapa kita harus shalat, apa manfaat shalat dan seterusnya.
 
2. Memberikan dasar hubungan yang harmonis dengan orang-orang di sekelilingnya
Dalam Islam, hubungan antar manusia (hablumminanas), sama pentingnya dengan hubungan manusia dengan Allah (hablumminnallah). Bahkan nabi Ibrahim berdoa kepada Allah: “… agar mereka dicintai orang-orang…” Jadi, wajib bagi kita mengajarkan tata cara pergaulan yang baik dengan sesama dan dilandasi rasa saling hormat-menghormati; serta mampu bersikap asertif.
 
3. Memberikan dasar yang kuat guna menghadapi tantangan jaman
Nabi pernah bersabda bahwa Beliau mengkhawatirkan umat dibelakangnya yang akan seperti busa di lautan; banyak namun tidak berpendirian. Hal semacam inilah yang harus kita pertimbangkan saat merencanakan pendidikan dasar bagi anak-anak kita. Misalnya bagaimana agar ia menjadi anak yang kuat imannya, santun kepada sesama, serta kuat pula ilmunya. Ilmu akan membuat ia mampu bertahan serta senantiasa memiliki jalan ikhtiar untuk keluar dari permasalahan yang ia hadapi.
Nah, mari Parents, kita koreksi kembali apakah telah benar langkah yang kita ambil dalam mendidik anak kita di rumah. Jika masih ada yang kurang, mari kita lengkapi, jika ada yang keluar jalur, mari kita benahi.
Jika telah benar dan sesuai perintah Allah, mari kita berdoa agar Allah senantiasa menjaga keistiqomahan, lisan dan hati kita dari hal-hal yang tidak Allah kehendaki. | theasianparent.com
 
#Parenting

Senin, 18 Januari 2016

Anak Asuh Rumah Yatim Selalu Berdoa serentak di 14 provinsi

DOA (DU’A) adalah memohon atau meminta pertolongan kepada Allah SWT. Akan tetapi bukan berarti hanya orang-orang yang sedang ditimpa musibah saja yang layak memanjatkan doa. Dalam keadaan segar-bugar dan tidak kekurangan suatu apa pun, sebagai manusia, kiranya kita layak berdoa. Setidaknya berdoalah memohon perkenan Allah SWT untuk mengampuni segala dosa-dosa, baik yang kita segaja maupun tidak. Juga meminta tetap diberi kekuatan iman dan kesehatan agar dapat melaksanakan segala perintah-Nya. Lalu memohon perlindungan-Nya dari gangguan setan dan hawa nafsu kita sendiri supaya tidak terjerembab dalam jurang maksiat.

Apalagi jika kita sadari bahwa situasi dan kondisi yang kita hadapi sehari-hari berputar bagai roda pedati. Mungkin saja hari ini kita bisa beribadah dengan baik dan ikhlas, namun siapa tahu hari- hari berikutnya kita didera rasa malas? Boleh jadi hari ini kita begitu bahagia, tetapi siapa tahu nasib kita pada esok atau lusa menjadi sebaliknya? Karena itulah dalam keadaan sebaik apa pun kita tetap perlu berdoa. Muhammad Rosulullah saw. bersabda, "Tiada sesuatu yang paling mulia dalam -pandangan Allah, selain dari berdoa kepada-Nya, sedang kita dalam keadaan lapang."  (HR. Al-Hakim).

Tentu saja dalam berdoa jangan memohon sesuatu yang menurut kita baik, padahal sesungguhnya buruk. Suatu misal karena sudah lama menderita sakit parah, karena merasa selalu tersiksa lalu kita memohon kematian. Bukankah seharusnya kita memohon kesem buhan. Nabi saw. juga melarang kita memohon mati. Abu Huroiroh ra. mengutarakan, Muhammad Rosulullah saw. bersabda, ’’Sekali-kali janganlah kalian meminta mati. Jangan pula mendoakannya sebelum mati itu datang sendiri. Sebab jika kamu telah mati, maka berhentilah kalian beramal. Sesungguhnya bertambah panjang umur seorang mukmin, bertambah pula kebaikan yang dapat diperbuatnya". (HR. Muslim)

Allah SWT juga berjanji untuk mengabulkan doa para hamba- Nya. Dan Tuhanmu berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan bagimu." (QS. 40/Al- Mukmin: 60) "Dan Dia mem perkenankan (doa) orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya. (QS. 42/Asy- Syuro: 26)

Dalam hadits juga diungkapkan bahwa Allah SWT tidak akan menolak doa hamba-Nya. Muhammad Rosulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya Allah, Tuhan Yang Maha Hidup lagi Maha Mulia, merasa malu jika seseorang mengangkat kedua tangannya untuk berdoa, lalu or ang itu ditolak dengan kosong dan kecewa". (HR. Empat Ahli Hadits, kecuali Nasai dari Salman ra.) Dengan demikian setiap doa pasti dikabulkan oleh-Nya. Bahkan ada tiga orang yang mendapat prioritas doanya segera dikabulkan.

Muhammad Rosulullah saw. menerangkan, "Ada tiga orang yang sekali- kali tidak akan ditolak doanya oleh Allah SWT, ialah orang yang sedang berpuasa sampai waktu menjelang berbuka, kepala negara yang adil, dan orang yang teraniaya." (HR. Tirmidzi dari Abu Huroiroh ra.)

Jika doa-doa yang telah kita panjatklan belum terkabulkan, bukan berarti bahwa doa kita tersebut ditolak. Muhammad Rosulullah saw. bersabda: "Apabila seorang muslim menyungkurkan wajahnya (sujud) kepada Allah dalam memohon sesuatu, pasti Allah memberinya. Dan pemberian itu disegerakan atau menjadi simpanan di akhirat". (HR. Ahmad dari Abu Huroiroh ra.).

Doa merupakan unsur yang paling esensial dalam ibadah. Muhammad Rosulullah saw. bersabda: "Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah Ta’ala dibandingkan doa". (HR. Ahmad, Bukhori, Tirmidzi dan Nasai)

Kegiatan yang dilakukan setiap maghrib di asrama asrama rumah yatim ini rutin dilaksanakan sebagai wujud syukur dan rasa terima kasih kami kepada Allah SWT dan semoga para donator yang selama ini perduli terhadap kami

‘’ Terima kasih kami haturkan kepada ayah,bunda dan juga kakak atas dukungan dan do’anya kepada kami selama ini, Dari Ayah dan Bunda kami telah banyak belajar bagaimana kami bisa Mandiri dan Berbagi, Semoga AllAH SWT selalu memberikan kesehatan dan keberkahan kepada Ayah dan Bunda serta Kakak sehingga terus bisa membimbing kami sampai nanti Ayah dan Bunda serta kelak bisa Bertetangga dengan Rasulullah SAW di SurganNYA, AMIINN.

Salam bakti dari Nanda Semua (anak-anak ,Ayah dan Bunda Asrama Jawa Tengah)

’ Terima Kasih dan Do’a dari kami anak asuh Makassar, semoga apa yang di sedekahkan Allah balas dengan berlipat ganda serta Bapak dan Ibu serta kakak diberikan keluarga sakinah mawaddah warrohmah serta dilancarkan dalam menjalani aktivitas kerja atau usahanya dan barokah rizkinya.Amiin’’

‘’ Doa dari nanda semua di Pekanbaru bagi Ayah,Bunda,abang serta kaka semoga yang lagi sakit Allah sembuhkan… yang belum dapat jodoh Allah pilihkan yang terbaik jodohnya.. yang lagi di perjalanan Allah lindungi dan selamatkan sampai tujuan serta diberikan kelancaran.. yang belum punya keturunan Allah kasih Anak yang shaleh dan shalehah… dan yang sedang beraktivitas semoga Allah berikan kelancaran…’’

‘’ Bismillahirromaanirrohiim Mudah-mudahan ayah,bunda dan kaka Allah mambariakan kasih sayang – NYA gasan Ayah dan Bunda, Ulun Do’a kan mudah-mudahan Allah mambariakan kamudahan dalam samua urusannya, dibariakan kalancaran dalam manjalanakan aktofitas lawan dibarikan kasuksesan dalam satiap kahidupannya, Aamiin
(Anak asuh Banjarmasin – Kalimantan Selatan)

‘’ Ya Allah Pasihan rohmat tur kasehatan, sareng kabarokahan rezeki jeung kalancaran dina aktivitas sadidnteun pikeun donator sadayana’’
(Anak asuh – Jawa Barat)


NABI MUHAMMAD SEBAGAI PENGUSAHA


Oleh A. Fatih Syuhud
 
Bagi yang sudah pernah membaca sedikit tentang sirah nabawiyah (sejarah Nabi Muhammad) tentu akan mengetahui bahwa Nabi sudah mulai berdagang sejak pada usia yang masih sangat muda. dalam usia 12 tahun. M. Husain Haikal dalam Hayatu Muhammad mengisahkan kronologi peristiwa ketika Nabi bersama pamannya Abu Thalib berangkat untuk berdagang ke Syam (sekarang Suriah). Di mana sebenarnya Abu Thalib tidak ingin Nabi ikut dalam perjalanan tersebut, tapi justru itu adalah kehendak Nabi sendiri yang bersikeras untuk ikut:
 
Abu Thalib sangat menyayangi keponakannya sebagaimana sayangnya Abdul Muttalib, kakek Nabi dan ayah Abu Thalib, kepada cucunya. Rasa sayang Abu Thalib pada Nabi melebihi rasa sukanya pada anaknya sendiri. .. Oleh karena itulah, Abu Thalib tidak ingin mengajak Nabi melakukan perjalanan panjang ke Suriah pada saat usianya baru 12 tahun. Abu Thalib berfikir ia terlalu muda untuk menjalani perjalanan padang pasir yang sangat berat. Namun ia akhirnya mengizinkan Muhammad setelah Nabi bersikeras untuk ikut.[1]
 
Kalau Nabi mulai belajar berbisnis sejak usia yang begitu belia bahkan masih anak-anak, maka pantaslah kalau beliau menjadi seorang pengusaha yang sukses. Karena, menurut seorang pakar bisnis, seorang pebisnis sejati yang sukses adalah apabla ia memiliki pengalaman entrepreneurship (kewirausahaan) sejak dini.[2]
 
Menurut Syafii Antonio, Nabi mulai merintis karir dagangnya pada usia 12 tahun dan memulai usahanya sendiri ketika berumur 17 tahun. Pekerjaan ini terus dilakukan sampai menjelang beliau menerima wahyu pada usia 37 tahun. Dengan demikian, Nabi menjalani kehidupan sebagai pebisnis selama kurang lebih 25 tahun. Hal ini lebih lama dari masa kerasulan Nabi yang berlangsung sekitar 23 tahun.[3]
 
Aktivitas Nabi yang dilakukan sebelum kerasulan beliau menjadi pertanda yang nyata bahwa dalam Islam bekerja keras untuk urusan duniawi bukanlah sesuatu yang ditabukan. Lebih dari itu bekerja dan berbinis justru dianjurkan dan menjadi salah satu bagian dari ibadah.
 
Aktivitas Bisnis dalam Islam
Islam tidak melarang pemeluknya untuk berusaha memenuhi kebutuhan hidup diri sendiri dan keluarga. Sebaliknya, aktivitas bisnis sangat dianjurkan. Bekerja keras untuk mendapatkan rejeki yang halal adalah perintah. Dalam QS Al-Jumah 62:10 Allah berfirman: “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”
 
Ayat ini ditujukan pada umat Islam yang sedang melakukan kegiatan bisnis pada hari Jum’at sejak pagi hari, agar mereka tidak lupa melakukan shalat Jum’at dan baru melanjutkan kegiatan setelah shalat Jumat selesai. Ayat ini secara implisit menegaskan bahwa Islam tidak memperkenalkan masa libur untuk bekerja. Seorang muslim dianjurkan untuk bekerja tujuh hari dalam seminggu tanpa mengenal libur. Walaupun pada hari Jum’at. Hari yang dalam Islam dianggap khusus. Ini berbeda dengan di agama lain di mana pemeluk Yahudi harus libur di hari Sabtu dan pemeluk Nasrani harus libur di hari Minggu. Apabila spirit ini diikuti, maka umat Islam adalah umat yang memiliki etos kerja paling tinggi. Konsekuensinya, maka umat Islam akan menjadi umat yang paling berhasil dalam segi pencapaian ekonomi.
 
Pengusaha muslim semestinya yang menjadi 100 orang terkaya dunia versi majalah Forbes. Kalau dalam realitasnya tidak demikian, maka tentu yang salah adalah umat Islam yang tidak mengamalkan perilaku ekonominya sesuai dengan spirit ideal Islam .
 
#RyLebihDekat
Insya Allah Bersambung Minggu Depan “Sumber Penghasilan yang Dilarang”
 
 
CATATAN AKHIR
[1] Muhammad Husain Haikal, Hayatu Muhammad, terjemah bahasa Inggris The Life of Muhammad oleh Ismail Raji Al-Faruqi, hlm. 54.
[2] Kevin D. Johnson, The Entrepreneur Mind: 100 Essential Beliefs, Characteristics, and Habits of Elite Entrepreneurs, Johnson Media Inc., 2013
[3] Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec, Muhammad SAW: the Super Leader Super Manager, Tazkia Publishing, 2008, hlm. 77.