Minggu, 28 Februari 2016

“Maka nikmat allah yang mana lagi yang kau dustakan?” (QS Ar Rahman)

12742177_1006944169390338_2931412434645710000_n
Pernahkah anda membaca surat Ar-Rahman? Surat ar-Rahman adalah surat ke 55 dalam urutan mushaf utsmany dan tergolong dalam surat Madaniyah serta berisikan 78 ayat. Satu hal yang menarik dari kandungan surat ar-Rahman adalah adanya pengulangan satu ayat yang berbunyi "fabiayyi ala i rabbikuma tukadziban" (Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?). Kalimat ini diulang berkali-kali dalam surat ini. Apa gerangan makna kalimat tersebut?
Surat ar-Rahman bagi saya adalah surat yang memuat retorika yang amat tinggi dari Allah. Setelah Allah menguraikan beberapa ni’mat yang dianugerahkan kepada kita, Allah bertanya: "Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?".

Menarik untuk diperhatikan bahwa Allah menggunakan kata "dusta"; bukan kata "ingkari", "tolak" dan kata sejenisnya. Seakan-akan Allah ingin menunjukkan bahwa ni’mat yang Allah berikan kepada manusia itu tidak bisa diingakri keberadaannya oleh manusia. Yang bisa dilakukan oleh manusia adalah mendustakannya.

Dusta berarti menyembunyikan kebenaran. Manusia sebenarnya tahu bahwa mereka telah diberi ni’mat oleh Allah, tapi mereka menyembunyikan kebenaran itu; mereka mendustakannya!
Bukankah kalau kita mendapat uang yang banyak, kita katakan bahwa itu akibat kerja keras kita, kalau kita berhasil menggondol gelar Ph.D itu dikarenakan kemampuan otak kita yang cerdas, kalau kita mendapat proyek maka kita katakan bahwa itulah akibat kita pandai melakukan lobby. Pendek kata, semua ni’mat yang kita peroleh seakan-akan hanya karena usaha kita saja. Tanpa sadar kita lupakan peranan Allah, kita sepelekan kehadiran Allah pada semua keberhasilan kita dan kita dustakan bahwa sesungguhnya ni’mat itu semuanya datang dari Allah.

Maka ni’mat Tuhan yang mana lagi yang kita dustakan! Anda telah bergelimang kenikmatan, telah penuh pundi-pundi uang anda, telah berderet gelar di kartu nama anda, telah berjejer mobil di garasi anda, ingatlah–baik anda dustakan atau tidak–semua ni’mat yang anda peroleh hari ini akan ditanya oleh Allah nanti di hari kiamat!

"Sungguh kamu pasti akan ditanya pada hari itu akan ni’mat yang kamu peroleh saat ini" ( QS 102:8 )
Sudah siapkah anda menjawab serta mempertanggung jawabankannya ???
Allah berfirman : FAIN TAUDDU NI’MATALLAHI LA TUKHSUUHA
Apabila kamu menghitung nikmat Allah ( yang diberikan kepadamu ) maka engkau tidak akan mampu (karena terlalu banyak).

Tidak patutkah anda bersyukur kepadaNYA, Mari mengucap Alhamdulillah sebagai bagian dari rasa syukur kita.

Ditulis oleh M. Edi S. Kurniawan

Jumat, 26 Februari 2016

JIKA MERESA BEBANMU CUKUP BERAT, MENGADULAH KEPADA ALLAH SWT



Dalam keheningan malam terasa nikmat mengadu hal & berkeluh kesah kpd Allah, melepaskan sejenak beban permasalahan kehidupan.....,
Meneteskan airmata dihadapan Allah dengan shalat tahajud dan bermunajat...
Ketika hati sedang sedih, resah, tak tahu apa yang harus diperbuat ? Ketika air mata mengalir… merasakan penderitaan yang begitu perih, dimanakah tempat mengadu?

Menangislah....... bercucuran air mata dihadapan Allah. Memohon segala ridhoNYA, rahmatNYA dan kebahagiaanNYA agar diberikan kekuatan dalam menghadapi badai kehidupan.
Hanya kembali kepada Allah swt tempat untuk mengadu dan dengan pertolongan Allah swt akan datang hidayahNYA dengan penuh keindahannya..... Subhanaallah
www.rumah-yatim.org
‪#‎SahabatRY‬ ‪#‎WakafPendidikan‬ ‪#‎Sedekah‬ ‪#‎Donasi‬ ‪#‎RumahYatim‬

Rabu, 24 Februari 2016

Rumah Yatim Bantu Warga Jompo di Kota Mataram



Rumah Yatim Mataram  memberikan bantuan berupa sembako kepada dua keluarga yang tinggal di Kecamatan Mataram, pada hari Rabu (17/08/2016).

Bantuan ini diberikan kepada Bapak Nasri (65), yang  tinggal bersama istrinya di Gg Darmayu RT.04, lingkungan majeluk. Sudah beberapa bulan terakhir, bapak nasri menderita penyakit tumor pada lengannya yang menyebabkan ia harus di rawat di rumah. Oleh karenanya sang istri pun berinisiatif untuk mencari nafkah sebagai pengumpul barang bekas, untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari.
Tidak jauh dari lingkungan majeluk, di lingkungan karang kemong bantuan berupa sembako pun diberikan kepada Ibu Ramisah (60) yang saat ini tinggal dengan tanpa sanak saudara.
Salah satu penerima bantuan , Bapak nasri pun mengucapkan banyak terima kasih, karena melalui bantuan ini dapat meringankan bebannya.

Jajang Khoiruman, sebagai Kepala Cabang Rumah Yatim Mataram pun menjelaskan, rencananya bantuan ini tidak terputus sampai di sini saja, melainkan akan diberikan secara rutin setiap bulannya. Ia pun berharap agar mendapat uluran tangan dari para donatur untuk membantu biaya kesehatan bagi bapak nasri.

Kamis, 11 Februari 2016

MATA LALAT DAN MATA LEBAH


Renungan ini harus dimaknai dari yang tersirat tidak hanya yang tersurat.

Tentang mata lalat....
Lalat senang hidup di tempat yang berbau busuk, karena memang disanalah habitatnya. Tidak akan pernah ada lalat yang senang di tempat yang bersih, wangi, dan rapi.

Hingga apabila ada sebuah taman bunga yang luas, namun ada segenggam sampah di taman itu, lalat akan tetap mendatangi sampah itu... Di tempat indah seperti ini apa yang dicari lalat? Ya, sampah !

Selanjutnya kita lihat lebah,
Lebah senang berada di bunga-bunga yang harum mewangi.. karena memang disanalah habitatnya..tidak akan pernah ada lebah yang senang di tempat yang kotor dan berbau busuk...

Hingga apabila ada setumpukan besar sampah, namun ada setangkai bunga wangi disana, lebah akan tetap mendatangi bunga itu... Mana yang akan didatangi lebah? Ya! bunganya!

Apa pelajaran yang bisa kita ambil?
Maka bacalah ketetapan Allah yang ada pada mata lalat dan mata lebah, Mata lalat selalu melihat keburukan, meski disekelilingnya ada kebaikan yang banyak. Mata lebah, selalu melihat kebaikan.meski disekelilingnya ada keburukan

Dengan mata lalat, kita akan melihat kekurangan terus, mata dan hati kita akan tertutup untuk melihat kebaikan atau sisi positif dari apapun kondisi yang ada di hadapan Dengan mata lalat..kita tidak akan pernah terpuaskan, senantiasa mengeluh, dan melupakan syukur,

Sedangkan dengan mata lebah, kita akan melihat pasti ada sisi positif yang bisa diambil dalam seburuk-buruknya kondisi. Kita akan lebih cepat dan tepat memberikan solusi terhadap suatu permasalahan. Ibarat kita sedang terjebak dalam suatu gua.maka kita akan lebih cepat menemukan seberkas cahaya yang mengantarkan kita pada jalan keluar.

Dengan mata lebah, kita akan melihat dengan penuh optimis, menatap orang lain dengan sejuk, dan senantiasa ingat dan bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Seburuk-buruknya sikap orang lain kepada kita, kita harus tetap mampu melihat bahwa di dalam dirinya ada ruh yang senantiasa rindu akan kasih-sayang..." "Sejahat-jahatnya orang, jangan melihat fisiknya, tapi lihat bahwa di dalam dirinya, sebagaimana kita semua, ada ruh yang rindu dengan kedamaian..."

"Maka apabila kta berjumpa dengan orang yang membenci kita, Kita tidak akan balas membenci. Justru kita akan doakan dia karena mungkin dia sedang khilaf dalam memandang suatu keadaan...." Itulah pandangan "Mata Lebah" yang dicontohkan
..
Apa pelajaran selanjutnya?
Yaitu orang lain boleh dan sah saja berpandangan buruk kepada kita. Tapi kita jangan sampai berpandangan buruk ke mereka, dan tetaplah teguh atas apa yang menjadi misi hidup kita.
Doakanlah dia! Karena bukankah sebenarnya kita bersaudara?

Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ' alaihi wa sallam yang mendoakan orang-orang Thaif setelah beliau dilempari batu...
"Yaa Allaah..ampunilah kaumku..karena sesungguhnya mereka tidak mengerti...." Dan bahkan ketika itu malaikat gunung meminta izin kepada  Rasulullah Shallallahu ' alaihi wa sallam untuk menimpakan gunung ke atas mereka...

Namun Rasulullah Shallallahu ' alaihi wa sallam bersabda,"Aku berharap dari sulbi-sulbi mereka (keturunan mereka) muncul orang-orang yang akan menyembah Allah"

Semoga Bermanfaat...